Mandui safar

Mandi Safar

      Mandi safar merupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu . tradisi ini itu mandi bercampur di sungai Mentaya sebagai simbol membersikan diri sekaligus harapan agar bersih dan terhindar dari hal hal yang tidak baik. tradisi mandi sarapan biasanya dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. tradisi oleh seorang tokoh adat, dengan melakukan semacam ritual menggunakan daun Sawang yang selanjutnya digunakan warga saat bercubur ke sungai. setelah berdo'a bersama warga kemudian beramai-ramai mandi bercebur di sungai Mentaya.

        Nilai moral yang terdapat dalam tradisi mandi Safar ini antara lain adalah nilai musyawarah untuk mufakat, pelestarian lingkungan, tolong-menolong, persaudaraan, syukur, keselamatan, pendidikan ekonomi dan pendidikan politik. 

       Mandui safar datang dari nenek moyang kita dan diturunkan kepada budaya kita di Kalimantan untuk membuang kesialan yang di adakan pada bulan safar.

       Masyarakat percaya bahwa tradisi mandi safar dilakukan untuk menolak bala atau suatu mala petaka karena pada minggu keempat bulan Safar yang jatuh setiap hari Rabu atau hari terakhir, dianggap sebagai hari naas sehingga tidak baik untuk melakukan perjalanan.

        Adapun tahap pelaksaan dilakukan secara bertahap:

-Pertama, mengambil daun manggayang digunakan untuk menulis tujuh ayat yang diawali dengan lafadz salamun dengan tinta mudah luntur. Setelah ditulis, tujuh lembar daun tersebut diletakkan di atas nampan yang berlapis kain putih. 

 -Kedua, meletakkan menara yang sudah diberi telur-telur matang di dekat pantai di depan panggung utama. 

-Ketiga, sambutan-sambutan dari beberapa pejabat daerah dan ditutup dengan sambutan dari ketua panitia yang menjelaskan kepada masyarakat bagaimana teknis dan urgensi dari ritual mandi safar. 

-Keempat, proses mandi bersama-sama di tepi pantai yang diawali dengan niat dan kemudian mencelupkan tujuh lembar daun mangga yang sudah tertulis tujuh ayat keselamatan baru kemudian merendamkan diri ke dalam air yang dipimpin oleh pemimpin ritual rnandi shafar. 

-Kelima, setelah selesai mandi, para pemimpin daerah setempat maupun tokoh adat naik di atas rakit yang sudah dibawa ke permukaan air di pantai untuk membagi-bagikan telur matang yang sudah disiapkan sebelumnya. 

Setelah itu satu sama lain saling bersalaman untuk bermaaf-maafan.

         Mandi safar memiliki tujuan yaitu sebagai simbol membersihkan diri sekaligus harapan agar diri bersih dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik.

       Sumber:https://images.app.goo.gl/hhm2cf6mmBNcgYU56









Penulis:

M.Andhika Sheva F.

Okta Fitriana

Affan Al Ghifari

Endhien Ibnu Rahman

Riani mutiara ramadhani

DIVA FAKHIRA


      







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuyang Anak Kotawaringin Timur Kalteng

Memapas lewu