Lawang Sekepeng khas Kotawaringin Timur Kalteng
Sejarah Lawang Sekepeng
Pencak silat menjadi dasar dari kebanyakan atrkasi Lawang sakepeng. hal ini konon di pengaruhi oleh budaya dari luar yang dibawa oleh para pedagang yang masuk ke kawasan Kalimantan. Pengaruh gerakan tersebut antara lain adalah gerakan mirip bela diri dari dataran Cina, maupun silat dari Sumatera dan Jawa. Awal muasal nenek moyang Suku Dayak dahulu mengadopsi gerakan dan tingkah laku hewan dalam belajar silat, yaitu terinspirasi dari hewan endemik yang banyak dihuni dihutan yaitu beruk yang disebut bangkui oleh Suku Dayak. Perkembangan silat ini akhirnya menjadi sebuah tradisi kesenian yang terus mengalami perkembangan, hingga kini tak hanya menjadi gerakan bela diri namun juga sebagai bentuk kesatria nagi laki-laki yang akan melaksanakan pernikahan. Dan kemudian berkembang menjadi atraksi seni budaya dalam menyambut dan menghormati tamu yang hadir dalam sebuah upacara adat.
Tradisi Lawang sakepeng memiliki nilai adat dan agama yang kental, atraksi Lawang sakepeng dalam acara pernikahan bertujuan memeriahkan dan menyambut kedatangan pengantin laki-laki juga untuk menjauhkan segala rintangan dan musibah yang dapat dialami calon suami-istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Makna dari Lawang sakepeng
Berkaitan dengan kehidupan baru yang akan dijalani oleh kedua mempelai. Ketiga benang yang merintangi atau menjadi batas antara mempelai pria dan perempuan memiliki makna tersendiri. Benang pertama menjadi simbol dari marabahaya yang seringkali berada di dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Benang kedua mewakili simbol hubungan yang tidak baik ketika kedua mempelai memulai kehidupan berkeluarga. Terakhir, simbol sesuatu yang berhubungan dengan maut. Saat para pesilat berhasil memutuskan ketiga benang tersebut, lenyaplah segala marabahaya, petaka, dan hubungan tidak baik yang menghalangi para mempelai untuk memulai kehidupan baru sebagai satu keluarga.Tradisi Lawang Sakepeng ini adalah untuk menjauhkan sebuah kehidupan keluarga dari berbagai rintangan, halangan maupun malapetaka.
Pesan moral dari Lawang Sekepeng
Yaitu supaya selalu berbuat baik kepada keluarga, dan menjaga keharmonisan keluarga tanpa ada rasa dendam.
Syarat dan pelaksanaan Lawang Sekepeng
Tradisi ini dapat dilakukan laki-laki maupun perempuan Pada upacara pernikahan, pesilat yang bermain berasal dari pihak laki-laki maupun perempuan. Masing-masing mempelai dapat menurunkan pesilat sebanyak satu atau lebih dari satu. Pesilat yang dipilih adalah pesilat yang memahami tata cara bermain, seperti menyerang, menangkis, bahkan membuat lawan terluka. Permainnya dengan mempertemukan para pesilat pada satu titik garis saling berhadapan satu lawan satu. Pertemuan tersebut tepatnya di bawah gapura atau lawang.
- Muhammad Andika Sheva F.
- Muhammad Farish Ramadhan
- Faris Ainur Jahfal
- Aila Azura Lestari
- Endhien Ibnu Rahman
- Zahra aula septiarahmawati


Komentar
Posting Komentar